SEJARAH BANDARA SYAMSUDIN NOOR DAN FASILITAS TEMPUR MALUKA BAULIN KALIMANTAN SELATAN


Siapa yang tidak kenal Bandara Syamsuddin Noor yang sekarang kita kenal ini ..! dahulu di sebut dengan sebutan Pangkalan Udara Ulin Banjarmasin yang merupakan pangkalan udara yang berada di Kalimantan Selatan. Pada awal perkembangannya telah ikut mewarnai pelaksanaan perjuangan dalam rangka merebut dan mempertahankan kemerdekaan negara Republik Indonesia. Pangkalan Udara Ulin Banjarmasin dibangun pada mulanya oleh  pemerintahan pendudukan Jepang pada tahun 1944 dan terletak disebelah selatan Jalan A. Yani Km 25 Landasan Ulin Banjarbaru. Tepatnya pada posisi koordinat 03 270 S 114 450 E, serta pada masa itu hanya memiliki ukuran landasan panjang 2.220 meter dan lebar 45 meter.
Tugu Selamat Datang Bandar Udara Syamsudin Noor
Berakhirnya masa pendudukan Jepang di tandai serangan Belanda yang kiat meningkat sehingga bandar udara yang dibuat Jepang hancur luluh lantak di boombardir oleh tentara sekutu, kemudian pada tahun 1948 landasan tersebut di renovasi oleh pemerintahan pendudukan Belanda ( NICA ) dengan  Pengerasan landasan udara dengan pondasi  batu setebal 10 cm.

Setelah sekian lama di pakai Belanda dalam perkuatan armada udaranya akhirnya pada tanggal 1961 Belanda Jatuh ke tangan Indonesia itu terbukti Saat pengakuan Belanda dan Dunia Internasional kepada kedaulatan RIS (Republik Indonesia Serikat) , pengelolaan lapangan terbang Ulin kemudian dilakukan oleh Pemerintah Daerah / Dinas Pekerjaan Umum, dan pada Pemerintahan RI (khususnya Departemen Pertahanan Udara dalam hal ini TNI AU) kemudian pada akhirnya pengelolaan ini dilimpahkan sepenuhnya kepada Kementrian Perhubungan Jawatan Penerbangan Sipil. Dalam masa pembangunan mengisi kemerdekaan maka pada tahun 1974 landasan pacunya telah mampu didarati oleh pesawat udara jenis Fokker F-28, dan pada tahun 1977 diresmikan landasan pacu yang baru terletak sekitar 80 meter sebelah utara landasan pacu yang lama dengan kemampuan DC-9 terbatas.

PERGANTIAN NAMA PANGKALAN UDARA ULIN MENJADI PANGKALAN UDARA SYAMSUDDIN NOOR 
Peranan Pangkalan Udara Ulin Banjarmasin sudah cukup banyak dalam mendukung kegiatan operasi, baik operasi Udara maupun operasi darat, tentu dengan kiprah Pangkalan Udara tersebut telah membawa harum bagi daerah Kalimantan Selatan,  namun keharuman itu belumlah lengkap apabila sederetan Pahlawan Nasional Putra Kalimantan Selatan tidak diabadikan seperti mencantumkan nama pahlawan melalui nama jalan, lambang satuan, nama gedung atau sarana umum lainnya.

Guna mengenang kembali jasa para Pahlawan Nasional yang berasal dari daerah Kalimantan Selatan, maka Pemerintah Daerah melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kalimantan Selatan mengusulkan agar Pangkalan Udara Ulin Banjarmasin dapat digantikan dengan nama Pahlawan Nasional asal Putra Daerah Kalimantan Selatan.

Sederetan nama Pahlawan Nasional baik dari kalangan Militer maupun sipil mulai diusulkan, semula diusulkan untuk mengganti nama Pangkalan Udara Ulin Banjarmasin dengan Pangkalan Udara Supadio mengingat Komodor Udara Supadio adalah Panglima Komando Wilayah Udara Kalimantan yang pertama namun Pemerintah Propinsi Kalimantan Selatan belum menyetujuinya, kemudian diusulkan kembali nama putera daerah yang banyak andil dalam menegakkan negeri ini seperti Pangeran Antasari dan Sjamsudin Noor. Dari kedua nama Pahlawan Nasional tersebut mulai diperdebatkan, mengingat nama satuan yang akan diberikan merupakan unsur dari penerbangan, maka untuk mengenang kembali jasanya yang banyak dalam menegakkan dan memajukan penerbangan Nasional dimana pengabdian dan pengorbanan tanpa pamrih dari almarhum Letnan Udara Satu Anumerta Sjamsudin Noor, maka Pimpinan Pangkalan Udara Banjarmasin saat itu mengusulkan penggunaan nama Sjamsudin Noor yang telah gugur dalam menunaikan tugas negara, patut menjadi contoh suri tauladan bagi segenap putra Indonesia dan warga AURI pada Khususnya.Atas pengorbanan dan jasa-jasa Letnan Udara Satu Anumerta Sjamsudin Noor maka pimpinan Pangkalan Udara Ulin Banjarmasin mengusulkan nama Sjamsudin Noor sebagai pengganti nama Pangkalan Udara Ulin Banjarmasin. 

Setelah melalui berbagai pertimbangan dan pembicaraan antara Pimpinan Pangkalan Udara Ulin Banjarmasin dengan Pemerintah Daerah Kalimantan Selatan, setelah tercapai kesepakatan dengan pemerintah daerah Kalimantan selatan yang tertuang dalam Surat Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kalimantan Selatan Nomor 4 / DPRD / KPT / 1970 Tanggal 13 Januari 1970 tentang Perubahan Nama Lapangan Udara Ulin menjadi Lapangan Udara Sjamsudin Noor, maka diusulkan oleh Pangkalan Udara Ulin Banjarmasin kepada pimpinan Angkatan Udara di Jakarta untuk mengganti nama Pangkalan Udara Ulin Banjarmasin, menjadi Pangkalan Udara Sjamsudin Noor, maka berdasarkan surat keputusan Kepala Staf Angkatan Udara No 29 Tanggal 21 Maret 1970 nama Pangkalan Udara Ulin Banjarmasin secara resmi diganti dengan nama Pangkalan Udara Sjamsudin Noor, berlaku mulai tanggal 09 April 1970.

Dengan perkembangan yang begitu pesat maka pada tahun 1975 telah ditetapkan bahwa pangkalan Udara Ulin Banjarmasin sebagai lapangan terbang sipil yang dikuasai sepenuhnya oleh Departemen Perhubungan melalui keputusan bersama Menteri Pertahanan Keamanan / Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, Menteri Perhubungan RI dan Menteri Keuangan RI Nomor : Kep / 30 / IX / 1975, No KM / 598 / 5 / Phb-75 dan No Kep. 927.a / MK / IV / 8 / 1975.

BANDAR UDARA SYAMSUDIN NOOR DI ERA SEKARANG
Mock Up Bandara Syamsudin Noor Akan Datang

Pada diera sekarang  Bandar Udara Syamsudin Noor sudah mampu di darati oleh Pesawat komersial berbadan Lebar seperti jenis boing 747, sehingga pengembangan kedepan Bandar Udara Syamsudin Noor akan di tingkatkan menjadi bandara Internasional pada Massa Pemerintahan Syahriel Darham dan mengalami perluasan dan renovasi pada saat pemerintahan Gubernur Rudy Ariffin.  

Pada bulan Desember 2012, pembebasan lahan sudah mencapai sekitar 82 hektar dari 102 hektar atau 85 persen dari pembukaan lahan yang diperlukan untuk perluasan bandara telah diperoleh Sementara itu, Humas PT Angkasa Pura I, Awaludin mengatakan dana yang sudah dikeluarkan PT Angkasa Pura untuk membayar ganti rugi lahan sebesar Rp237,7 miliar dari Rp290 miliar dana yang disiapkan. Artinya masih tersisa sebesar Rp57 miliar. Dana itulah yang dititipkan ke pengadilan. hingga saat ini masih belum tuntas 100% baik pembebasan lahan dan perbaikan terminal sehingga proyek dihentikan sementara waktu.

FASILITAS LATIHAN TEMPUR BANDARA SYAMSUDIN NOOR ATAU AIR WEAPONE RANGE MALUKA BAULIN / DWI HARMONO

Foto Pesawat Latih Super Tucano di Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin

Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Udara (TNI-AU) adalah bagian dari Tentara Nasional Indonesia yang dipimpin oleh Kepala Staf TNI Angkatan Udara yang disingkat KASAU yang pada saat ini dijabat oleh Marsekal Madya TNI Ida Bagus Putu Dunia. Saat ini, TNI-AU memiliki dua komando operasi yaitu Komando Operasi Angkatan Udara I (Koops AU I) yang bermarkas di Halim Perdanakusumah, Jakarta dan Komando Operasi Angkatan Udara II (Koops AU II) yang bermarkas di Makassar. Sedangkan Wilayah Kalimantan Selatan masuk dalam jajaran Koop AU II yang bermarkas di Makasar.

Bandara Syamsudin Noor sebagai pangkalan udara utama daerah Kalimantan Selatan juga memiliki  fasilitas Latihan Tempur yakni Pangkalan Tembak Udara ke Darat yang bernama Mauluka Baulin yang sekarang disebut Dwi Harmono.  Berdasarkan Data Profil Desa tahun 2003, desa Maluka mempunyai luas 427,50 ha. Secara administratif, desa Maluka Baulin berbatasan sebelah timur dengan Desa Bengkulu, sebelah barat Desa Bawah Layung (Sungai Bahau), sebelah selatan dengan Desa Raden, dan sebelah utara dengan Desa Tambak Karya dan Tambak Srikandi.

Eksistensi Maluka tidak terlepas dari sejarah penjajahan (kolonialisme dan imperialisme) Belanda, Inggris, dan Jepang di Kalimantan Selatan. Dalam sumber-sumber kolonial, Maluka biasanya ditulis dengan sebutan Molucco, Moluko, Molukko, Maloekoe, atau Maloeka. Tinggalan utama yang terdapat di Maluka adalah berupa lokasi bekas bandar udara (Bandara) peninggalan tentara Jepang.


AWR Kalimantan Selatan tersebut terletak tepatnya berada di daerah Maluka Baulin Kecamatan Kurau Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan yang berjarak sekitar 60 Km dari Lanud Sjamsudin Noor dengan luas tanah 996 Ha.  Pada Posisi 114ŗ 39’ 09” E, 03ŗ 41’ 44” S / 17 NM from BDM – VOR Radial 208ŗ elevasi 64 feet.
AWR Maluka Baulin Kalimantan Selatan


Dalam sejarahnya sebenarnya luas AWR maluka Baulin mempunyai total lahan 1031 Ha hasil pengukuran oleh BPN Tk I propinsi Kalimantan Selatan, 35 Ha digunakan untuk pemukiman Transau dan 996 Ha sebagai wilayah lapangan tembak dari udara ke darat Air Weapon Range (AWR) Dwi Harmono Maluka Baulin. AWR Dwi Harmono Maluka Baulin juga pernah digunakan untuk latihan Operasi Sikatan Daya, Latihan Angkasa Yudha dan Latihan Operasi Badar. Dalam Latihan ini akan menggelar penembakan dari udara ke darat seperti Bombing Target dan Strafing Target parallel dengan landasan pacu utama.
Su 27 Melakukan Boombing



Strafing Target

Display Boombing Target dari Su 27 Flanker


Selain itu  Bandara Syamsudin Noor pernah juga di pakai dalam latihan tempur di Pelaihari Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan tahun 2007 dengan mengikut sertakan 4 pesawat anyar Indonesia yaitu Sukhoi dan 5 Pesawat jenis hawk juga di persiapkan untuk ikut dalam latihan tempur tersebut. |||0|||0 (ex rixco.multiply.com)

Pages