DENTASMEN BRAVO 90 SATUAN ELITE PASKHAS TNI AU

Datasemen Bravo 90 atau Tim Bravo 90 merupakan detasemen elite Pasukan Khas (paskhas_, Angkatan Udara yang berintikan prajurit terbaik dari yang terbaik yang dimiliki Korps AU dan markas di Mako Korpaskhasau Lanud Margahayu, Bandung.

Prajurit Tim Bravo diambil dari 10 terbaik lulusan pendidikan komando yang dilakukan selama lima bulan. Tidak cukup dengan itu , mereka masih harus melewati beberapa tes lagi. Personel Tim BraAvo yang juga dikenal sebagai Special Forces of Indonesia Air Force (SFoIDAF) diperkirakan tak sampai 150 orang. Setiap regu berjumlah 11 orang.

Tugas parukan elite ini menjalankan fungsi intelijen di bawah perintah Panglima TNI dengan bawah kendali operasi  (BKO) Bais dan terlibat dalam misi-misi gabungan TNI untuk mengamankan objek-objek vital Tim Bravo juga ditempatkan dalam datasemen-datasemen pengawal pribadi (walpri) untuk KSAU dan Presiden.

Setiap anggota Tim Bravo dipersenjatai dengan scorpion model 61 kaliber 7,65 mm, minimi 5,56 mm, pistol Beretta 9 mm, pistol SIG Sauer 9 mm dan senjata sniper jenis G-3 sebagai satuan elite, sepuluh kualifikasi harus dikantongi personel Tim Bravo. Mulai dari Combat free fall, Haho, paralanjut olahraga, combat SAR, paradasar, dalpur.trimedia (darat, laut, udara) selam, tembak kelas I serta komando.

Dalam melaksanakna operasinya Tim Bravo bergerak tanpa identitas, Bisa mencair di satuan-satuan Paskhas atau seorang diri layaknya dunia Intelijjen.

Detasemen Bravo 90 (disingkat Den Bravo-90) terbilang pasukan khusus Indonesia yang paling muda pembentukannya. Baru dibentuk secara terbatas di lingkungan Korps Pasukan Khas TNI-AU pada 1990, Bravo berarti yang terbaik. Konsep pembentukannya merujuk kepada pemikiran Jenderal Guilio Douchet: Lebih mudah dan lebih efektif menghancurkan kekuatan udara lawan dengan cara menghancurkan pangkalan/instalasi serta alutsista-nya di darat daripada harus bertempur di udara.[1]

Pembentukan
Bravo 90 - Misi Penyelamatan


Dari dasar ini, Bravo 90 diarahkan menjalankan tugas intelijen dalam rangka mendukung operasi udara, menetralisir semua potensi kekuatan udara lawan serta melaksanakan operasi-operasi khusus sesuai kebijakan Panglima TNI. Saat dibentuk, Bravo diperkuat 34 prajurit;­ 1 perwira, 3 bintara, 30 tamtama. Entah kenapa, sejak dibentuk hingga akhir 1990-an, hampir tak pernah terdengar nama Bravo. Dalam masa "vakum" itu, anggotanya dilebur ke dalam Satuan Demonstrasi dan Latihan (Satdemolat) Depodiklat Paskhas. Baru pada 9 September 1999, dilaksanakan upacara pengukuhan Detasemen Bravo dengan penyerahan tongkat komando.

Pelatihan
Prajurit Bravo diambil dari prajurit para-komando terbaik. Setiap angkatan direkrut 5-10 orang. Untuk mengasah kemampuan antiteror, latihan dilakukan di pusat latihan serbuan pesawat GMF Sat-81 Gultor, latihan infiltrasi laut dalam rangkan penyerbuan pangkalan udara lepas pantai di pusat latihan Denjaka, latihan UDT (under water demolition) di sarana latihan Kopaska, latihan penjinakan bahan peledak di Pusdikzi Gegana, Polri, serta latihan anti-teror, terjun payung, HALO/HAHO dan demolisi di pusat pelatihan Special Air Service, Britania Raya.
Share this article :